Model Pembelajaran PBL

Konsep dari model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat menolong siswa untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan pada pada era globalisasi saat ini. Problem Based Learning (PBL) dikembangkan untuk pertama kali oleh Prof. Howard Barrows sekitar tahun 1970-an dalam pembelajaran ilmu medis di McMaster University Canada (Amir, 2009 ,h. 124). Model pembelajaran ini menyajikan suatu masalah yang nyata bagi siswa sebagai awal pembelajaran kemudian diselesaikan melalui penyelidikan dan diterapkan dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.

Menurut Duch (1995,h. 201), Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.

Menurut Arends (Trianto, 2007,h. 68), Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan dirinya.

Sintak pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut

  1. Orientasi peserta didik kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, proses pembelajaran, dan memotivasi peserta didik terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.

  • Mengorganisasikan peserta didik

Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, dll)

  • Membimbing penyelidikan individu dan kelompok

Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah

  • Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu peserta didik dalam merencanakan serta menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya

  • Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang  digunakan,

Contoh lembar Kegiatan siswa model pembelajaran PBL pada materi cara hidup dan re[roduksi virus :

LEMBAR KEGIATAN SISWA

Perhatikan bacaan dan gambar dibawah ini yang diambil dari berita online KOMPAS.com diakses tanggal 06/06/2019

4 Hal yang Harus Diketahui tentang Cacar Monyet… Luthfia Ayu Azanella Kompas.com – 17/05/2019, 11:36 WIB
Penulis : Luthfia Ayu Azanella

KOMPAS.com – Sepekan terakhir, Singapura tengah menghadapi wabah virus zoonosis langka yang ditularkan ke manusia melalui hewan. Virus itu menyebabkan gangguan kesehatan itu dikenal sebagai cacar monyet atau monkeypox (MPX). Pembawa virus ini ke Singapura diketahui adalah seorang turis asal Nigeria yang datang ke Negeri Singa itu pada 28 April lalu. Dia terbukti mengidap virus ini pada 8 Mei 2019. Virus ini banyak ditemukan di negara-negara Afrika Barat dan Afrika Tengah, ditularkan ke manusia melalui hewan-hewan pengerat. Meskipun dipastikan belum merambah dan menyebar di Indonesia, namun tidak ada salahnya kita memahami apa yang disebut dengan cacar monyet ini. Berikut 4 hal yang harus Anda tahu tentang virus cacar monyet: Penularan Di wilayah persebaran aslinya, virus ini berasal dari hewan-hewan pengerat seperti tikus, dan bisa menular kepada manusia. Meski begitu, virus ini juga bisa menular antar-manusia melalui interaksi atau kontak dekat dengan sekresi saluran pernapasan penderita, luka pada kulit penderita, atau objek yang telah terkontaminasi cairan tubuh penderita. Namun, World Health Organization (WHO) menyebut penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi atau memiliki kemungkinan yang tipis. Akan terjadi reaksi tertentu pada tubuhnya sebagai akibat virus yang menyerang. Terdapat dua periode infeksi yang akan terjadi pada orang yang terserang virus ini. Dalam jangka waktu lima hari pertama, penderita akan merasakan demam, sakit kepala intens, pembengkakan nodus limfa atau limfadenopati, nyeri punggung juga otot, dan kekurangan energi. Selanjutnya, kulit akan mulai menampakkan reaksinya. Ruam-ruam mulai terlihat dari area wajah dan akhirnya meluas di area tubuh lainnya. Diperlukan waktu sekitar tiga minggu untuk ruam itu benar-benar hilang dan sembuh.

KOMPAS.com – Sepekan terakhir, Singapura tengah menghadapi wabah virus zoonosis langka yang ditularkan ke manusia melalui hewan. Virus itu menyebabkan gangguan kesehatan itu dikenal sebagai cacar monyet atau monkeypox (MPX). Pembawa virus ini ke Singapura diketahui adalah seorang turis asal Nigeria yang datang ke Negeri Singa itu pada 28 April lalu. Dia terbukti mengidap virus ini pada 8 Mei 2019. Virus ini banyak ditemukan di negara-negara Afrika Barat dan Afrika Tengah, ditularkan ke manusia melalui hewan-hewan pengerat. Meskipun dipastikan belum merambah dan menyebar di Indonesia, namun tidak ada salahnya kita memahami apa yang disebut dengan cacar monyet ini. Berikut 4 hal yang harus Anda tahu tentang virus cacar monyet: Penularan Di wilayah persebaran aslinya, virus ini berasal dari hewan-hewan pengerat seperti tikus, dan bisa menular kepada manusia. Meski begitu, virus ini juga bisa menular antar-manusia melalui interaksi atau kontak dekat dengan sekresi saluran pernapasan penderita, luka pada kulit penderita, atau objek yang telah terkontaminasi cairan tubuh penderita. Namun, World Health Organization (WHO) menyebut penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi atau memiliki kemungkinan yang tipis. Akan terjadi reaksi tertentu pada tubuhnya sebagai akibat virus yang menyerang. Terdapat dua periode infeksi yang akan terjadi pada orang yang terserang virus ini. Dalam jangka waktu lima hari pertama, penderita akan merasakan demam, sakit kepala intens, pembengkakan nodus limfa atau limfadenopati, nyeri punggung juga otot, dan kekurangan energi. Selanjutnya, kulit akan mulai menampakkan reaksinya. Ruam-ruam mulai terlihat dari area wajah dan akhirnya meluas di area tubuh lainnya. Diperlukan waktu sekitar tiga minggu untuk ruam itu benar-benar hilang dan sembuh.

Pencegahan Sejauh ini belum ditemukan vaksin yang bisa mencegah infeksi virus cacar monyet. Sebelumnya terdapat sebuah vaksin bernama Variola 85 persen yang efektif untuk mencegahnya. Namun, saat ini vaksin itu sudah tidak lagi diproduksi. Untuk itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mencegahnya adalah dengan meminimalisasi terjadinya infeksi. Menurut World Health Organization (WHO), bagi masyarakat di wilayah endemik penyebaran virus untuk mengurangi kontak dengan binatang-binatang yang menjadi sumber penyakit, seperti primata dan binatang pengerat. Membatasi konsumsi daging yang tidak dimasak dengan benar, juga bisa menjadi cara yang bisa dilakukan masyarakat untuk meminimalisasi penularan cacar monyet. Selain itu, masyarakat juga diminta melindungi diri dari orang yang sudah positif terjangkit cacar monyet. Misalnya, dengan menggunakan pakaian pelindung dan senantiasa menjaga kebersihan tubuh setelah melakukan interaksi dengan penderita.

Setelah memperhatikan bacaan dan gambar di atas lakukan kegiatan berikut.

  1. Menurut kamu, mengapa dapat terjadi penularan virus cacar monyet dari hewan ke manusia seperti wacana diatas ? jelaskan dengan kalimat sendiri !
  2. Bagaimana cara virus cacar monyet menginfeksi manusia atau hospesnya ?
  3. Tahukah kalian, apakah dampak dari peristiwa dalam gambar tersebut  jika tidak ditangani dengan baik ?
  4. Coba buat 2 pertanyaan lain terkait dengan proses penyebaran virus cacar monyet berdasarkan bacaan dan gambar di atas !
  5. Jawablah pertanyaan yang kalian buat pada soal no.3 !
  6. Coba kalian buat kesimpulan dari permasalahan yang telah kalian pelajarari !
STKIP PGRI SUMBAR

Leave a comment